Friday, April 24, 2015 0 comments

The Blessing of Weakness

    I always thought that I am a strong girl. I have conditions that most of young girls at my age don't have. Those conditions make me become a very individual and independent girl. I think I can do many things on my own. I find it's hard to ask people for help, because I don't want them feeling burdened with my problems. But, honestly, deep down in my heart I'm just a normal girl that needs a shelter when I am weary and burdened. 

    These days there are more conditions that makes me feeling uneasy. I'm feeling weak because of these conditions. It's hard for me to show people. Even I show my weakness to some people, I can't really relieved. I think they don't really care even they cares. I know it's not because of them. It's because of me. This 'strong girl' start to think that she needs "a shoulder to cry on".

    Oh, I never thought it before. I'm usually strong on my own. I can't understand when people become weak because of their problems. I can't treat them with sincere sensitivity. I want them be strong on their own.

    But now I thank God for these conditions that make me feeling weak. At least, I begin to understand. If I can be strong, it's because of Him. If people can't be strong on their own, I must understand. All I can say about my conditions now is:

I'll let my weakness humbled my heart till I fly higher than before

2 Corinthians 12:9 ESV / 216 

But he said to me, “My grace is sufficient for you, for my power is made perfect in weakness.” Therefore I will boast all the more gladly of my weaknesses, so that the power of Christ may rest upon me.
Saturday, April 4, 2015 0 comments

Kesalahan

Semua orang bisa membuat kesalahan dan tidak ada manusia yang sempurna. Hal itu semua orang tahu, tapi beberapa orang lebih sulit beradaptasi dengan kenyataan ini. Salah satunya saya. Saya adalah orang yang sulit menerima kesalahan, terutama kesalahan diri sendiri dan kesalahan orang yang saya percaya. Kesalahan orang lain tidak terlalu masalah bagi saya, tapi kesalahan diri sendiri dan kesalahan orang yang saya percaya adalah kasus khusus.

Namun hari ini aku belajar sesuatu yang luar biasa tentang kesalahan. Hari ini saya membuat dua orang yang harusnya saya jagai marah pada saya. Menurut saya bukan kesalahan fatal, karena saya bukan sengaja menyakiti mereka. Saya juga tidak mengerti kenapa hal ini sampai menjadi masalah besar. Namun, kali ini saya mencoba lebih rileks dalam menghadapi kesalahan yang saya buat.

Pada orang yang pertama, saya meminta maaf dan mengakui kalau saya salah. Sekalipun saat ini orang tersebut belum memaafkan saya (karena kejadiannya masih baru hari ini), namun saya percaya saya sudah melakukan bagian saya untuk minta maaf dan mengakui kesalahan serta berusaha tetap ramah pada orang tersebut. Saya tidak punya hak tersinggung jika dia belum bisa memaafkan saya atau marah balik, karena posisi saya yang sudah berbuat salah duluan. Saya hanya bisa bersabar menanti dia akan memaafkan saya jika hatinya sudah tenang.

Anehnya, hati saya tidak gelisah atau uring-uringan seperti biasanya jika saya berbuat salah. Sering saya menghukum diri sendiri dengan mengingat kembali kesalahan masa lalu yang sudah jauh berlalu atau baru terjadi, tapi hari ini saya belajar mengatasi kesalahan saya. SAYA TAHU SAYA SALAH KARENA ITU SAYA MAU BANGKIT DARI KESALAHAN SAYA. JIKA MERASA BERSALAH TERUS MENERUS SETELAH MINTA MAAF AKAN MEMBUAT KEADAAN LEBIH BAIK, MUNGKIN SAYA AKAN PERTAHANKAN RASA BERSALAH. TAPI JIKA ITU TIDAK MEMBUAT KEADAAN BERUBAH, SAYA MEMILIH UNTUK TENANG DAN MEMILIKI KEBERANIAN UNTUK MENGASIHI ORANG ITU SEKALIPUN DIA BELUM MEMAAFKAN SAYA.

Pada orang yang kedua, hal yang terjadi hanya kesalahpahaman komunikasi. Saya bermaksud memperhatikan dia karena dia lebih muda dan berada dalam otoritas saya untuk saya jaga, namun dia menganggap saya memperlakukan dia seperti anak kecil karena banyak bertanya soal kegiatannya. Kali ini saya meminta maaf sambil menjelaskan maksud saya, bahwa saya tidak bermaksud memperlakukan dia seperti anak kecil.

Hati saya juga tidak tertuduh seperti biasanya. Saya belajar bahwa penerimaan orang lain bukanlah ukuran final. Saya tahu motivasi saya melakukan hal itu adalah kebaikannya, namun saya tidak memaksa dia menerima cara saya, jadi saya akan berusaha berubah tanpa banyak kekuatiran yang tidak perlu. JIKA SAYA PUNYA ENERGI UNTUK MERASA GAGAL DAN MEMBENCI DIRI SENDIRI, MAKA SAYA AKAN GUNAKAN ENERGI SAYA ITU UNTUK TENANG DAN MEMPERBAIKI KESALAHAN SAYA.

That's how I deal with my mistakes. It's a good day for me because I learn something. Tambahan lagi, saya yakin setelah ini saya tidak akan mudah kecewa seperti dulu terhadap kesalahan orang lain. Bukankah saya yang sering merasa kecewa pada orang lain juga sering mengecewakan orang lain? Kenapa kita tidak saling memaafkan dan berubah lebih baik saja?
 
;